Dosen Universitas Terbuka Ambon Gelar Pelatihan Pembuatan Pupuk Organik Cair dari Limbah Kulit Pisang kepada Siswa, Mahasiswa dan Mayarakat

Ambon, 5 Desember 2024 – Dalam upaya mendukung pertanian berkelanjutan dan pemberdayaan masyarakat, dosen Universitas Terbuka (UT) Ambon mengadakan Pelatihan Pembuatan Pupuk Organik Cair Berbahan Limbah Kulit Pisang dengan Pemanfaatan Bioaktivator EM4. Kegiatan yang merupakan bagian dari Program Kreativitas Masyarakat (PKM) Mandiri ini dilaksanakan di Kantor UT Ambon pada Kamis, 5 Desember 2024, pukul 10.00 – 12.00 WIT.

Pelatihan ini bertujuan untuk memberikan pengetahuan serta keterampilan kepada siswa, mahasiswa, dan masyarakat dalam memanfaatkan limbah kulit pisang sebagai bahan dasar pupuk organik. Selain itu, pelatihan ini juga bertujuan untuk mengurangi jumlah sampah organik, meningkatkan kualitas tanah, serta mengurangi ketergantungan terhadap pupuk kimia yang berpotensi merusak lingkungan.

Pelatihan ini diselenggarakan oleh tim dosen UT Ambon yang terdiri dari Yuli Tirtariandi El Anshori, S.IP., M.AP, Dr. Rony Marsyal Kunda, M.Sc, dan Rahman Hasim, S.IP., M.Si. Para peserta yang hadir dalam kegiatan ini terdiri dari siswa SMA, mahasiswa CSR UT Ambon, serta masyarakat umum yang tertarik untuk belajar mengenai pembuatan pupuk organik cair.

Kegiatan diawali dengan persiapan oleh tim PKM, termasuk pengumuman melalui grup WhatsApp mahasiswa serta koordinasi dengan siswa SMK yang sedang menjalani program PKL di UT Ambon. Tim juga menyiapkan bahan dan alat yang diperlukan, seperti limbah kulit pisang, kangkung, air cucian beras, EM4, molase, gelas ukur, wadah penyimpanan, gunting, dan alat pengaduk.

Acara dibuka oleh ketua tim PKM, Yuli Tirtariandi El Anshori, S.IP., M.AP, dan dilanjutkan dengan pemaparan materi oleh Dr. Rony Marsyal Kunda, M.Sc. Dalam pemaparannya, Dr. Rony menjelaskan bahan-bahan yang dibutuhkan serta tahapan pembuatan pupuk organik cair. Setelah sesi teori, peserta diajak untuk mempraktikkan pembuatan pupuk, dimulai dari pemotongan kulit pisang dan kangkung, pencampuran bahan EM4 dan molase, hingga proses pencampuran keseluruhan bahan dalam wadah penyimpanan. Campuran tersebut kemudian harus disimpan selama kurang lebih dua minggu dan diaduk setiap dua hari agar proses fermentasi berjalan optimal.

Pelatihan ditutup dengan sesi foto bersama antara tim PKM UT Ambon dan para peserta. Meskipun kegiatan ini berlangsung dengan sukses, tim penyelenggara mencatat bahwa pelaksanaan di hari kerja menjadi tantangan tersendiri, karena mengurangi jumlah peserta yang bisa hadir secara maksimal.

Diharapkan melalui pelatihan ini, masyarakat dapat lebih mandiri dalam memproduksi pupuk organik dan berkontribusi terhadap keberlanjutan lingkungan melalui pemanfaatan limbah organik secara efektif.

foto: